Selasa, 24 Juli 2012

IQBAAL DHIAFAKHRI RAMADHAN: KAMU - Coboy Jr

IQBAAL DHIAFAKHRI RAMADHAN: KAMU - Coboy Jr: kamu buat aku tersipu buatku malu-malu saat bersamamu, saat ku sapa dirimu aku kok merinding buluku, kok jadi gugup aku saat bersamamu, ...

Minggu, 27 Mei 2012

Dark Blood and The Death Of Love


Selamat membaca………..



CHAPTER 1 Di dunia ini ada berbagai jenis makhluk gaib yang carminibus coelo possunt deducere lunam, dan sejak dulu mereka sudah terbagi menjadi enam golongan : yang hidup di api, di udara, di daratan, di air di bawah tanah, dan  jenis makhluk mengerikan. Beberapa di antara mereka masih hidup tersembunyi dihutan dan jarang terlihat atau berjumpa manusia.  Mereka dikenal di seluruh dunia dengan nama berbeda-beda salah satunya, Vampire / Dracula, spesies makhluk penghisap darah-darah segar, Vampire/ Dracula adalah makhluk setengah manusia.
                        Es war einmal im tiefen, tiefen wald.” (di kedalaman hutan yang paling dalam) Hutan yang mengelilingi area terbuka tampak begitu tebal dan mustahil dimasuki. Tersembunyi, Kastil tua sekilas nampak menyeramkan. Dalam keremangan cahaya, burung-burung gagak terbang bersama untuk bermalam di batang pohon ek  gundul. Seekor demi seekor, membumbung tinggi membentuk bayangan hitam didalam cahaya yang mulai redup. Seorang vampire diam, mengamati gagak-gagak itu, sigap, tanpa suara, seekor gagak jantan muda berhasil ia tangkap. Seringai senyum menakutkan nampak diraut wajahnya, tangan vampire Kevin mengapit kaki gagak dan mencengkeramkannya di tangan. Segera setelah mendapat buruan gagak, sang vampire Kevin terbang melayang ke angkasa menuju Kastil Tua.
 Lorong demi lorong kastil dia lewati, hingga pada akhirnya sampai pada sebuah tikungan penuh pintu-pintu menuju sebuah ruangan. “Kkaakkkk… dimana kau!?” berteriak sembari terbang melayang layang. Dari arah berlawanan muncul vampire Ronald bertubuh tegap dan gagah menepuk bahunya. “Astaga,.!!!!!!! Kau mengagetkan ku! Apakah ini cukup?” memamerkan gagak buruannya. “Ya.!” Merebut tangkapannya dan bergegas menuju loteng atap kastil.
“Apa kau yakin, darah gagak jantan beserta campuran darah 100 manusia mampu membuat kita tahan sengatan matahari?” Tanya vampire Kevin was-was. “Tidak. tanpa ramuan ini.!” Menunjukkan sebotol cairan ber’uap biru. “Apa?”
“Ini adalah jiwa Leprechaun, Roh jahat dewa Irlandia.” Jawabnya sambil menuangkan ramuan dalam satu wadah penuh darah manusia dan gagak. Seketika air darah tiba-tiba mendidih dengan sendirinya, warna darah berubah menjadi kebiru-biruan bercampur asap warna warni. Kilatan cahaya bertebaran disekitar ramuan, kepulan asap memekakkan ruangan kastil tua. Beberapa roh-roh 100 manusia berterbangan bersamaan dengan darah yang mulai berubah warna dan bentuk.
“Minum ini! Aku juga akan meminumnya!” Kata vampire Ronald seraya menyodorkan ramuan anti matahari. Kevin yang disodori hanya menurut dan meminumnya. “SSSSSRRRRRIIINNGGG” bersamaan, mereka berubah wujud, sayap hitam dan gigi taringnya mulai beringsut menghilang.
“…. Sayapku… Taringku…… Badanku…. Bagaimana ini bisa terjadi? Kita… Kita….menjadi manusia! Haruskah? Bukankah ramuan ini seharusnya untuk bertahan terhadap sinar matahari? Dengan tubuh setengah manusia saja kita sudah kesulitan, apa lagi menjadi manusia seutuhnya!? TIIDAAKK!!” Kevin menatap dirinya dicermin dengan pasrah merana. “Tenang.. pasti ada kesalahan disini, tunggu…” Ronald mencoba berfikir, namun hasilnya nihil. “Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Kevin mulai frustasi.
“Aku akan memikirkan cara menjadi vampire lagi. Dan Jalan terakhir, untuk bertahan hidup adalah menjadi manusia. Hidup diantara mereka!” jelasnya, menenangkan Kevin.
            Awan hitam pekat perlahan berubah biru cerah, dan dalam beberapa menit kabut tebal memasuki hutan. Cahaya merah dan biru berpendar diatas puncak-puncak pohon, memantul diatas langit. Sejuk terasa, burung-burung camar siyap terbang mencari makan, kicauan burung-burung membangunkan Ronald dari lamunan fikiran bagaimana menjadi vampire lagi.
“Aku lapar…” keluh Kevin memecah keheningan. “Kau bisa memakan daun-daun itu. Kita sekarang manusia.” Menunjuk pohon-pohon  rindang diluar kastil. “Jika seperti ini terus, aku bisa benar-benar GILA!!!” vampire Kevin keluar menuruni tangga kastil, melewati pintu-pintu, lorong-lorong dan sampai pada pintu megah kastil.  Matanya silau karena sinar matahari yang mulai menyingsing keatas, kaki terseret terseok-seok menuju pepohonan Ceri yang mulai berbuah. Tangannya meraih menggapai sebilah batang penuh buah Ceri, na’as baginya yang tidak bisa memanjat ataupun terbang memetik buah Ceri. “SIIAAAL!! Kekuatankupun sama sekali tidak bisa dipakai.” Umpatnya.
Ronald keluar kastil, dengan beberapa tas berisi barang-barangnya. “Kalau kau masih ingin hidup, dan tidak kelaparan, cepat kemasi barang-barangmu! Kita akan hidup berbaur bersama manusia. Butuh berjam-jam.. atau mungkin berhari-hari, untuk sampai ke kota.” Ucapnya.
“Huh… baiklah. Asal kau disisiku, apapun pasti terasa lebih indah” memasang senyum termanis.
            Siang hari teramat panas, di dunia yang berwarna hijau dalam keadaan lapar dan kurus. Ronald dan Kevin terus berjalan bergandengan tangan menyelusuri sungai hitam tengah hutan. Sungai itu lebih dikenal dengan “sustantivo” sungai kematian, setetes air sungai berwarna hitam menimbulkan dampak besar yang sangat fatal! Tetesan air sungai itu, akan meresap masuk melalui pori-pori kulit, perlahan akan merusak organ-organ tubuh, hingga tak berfungsi lagi. Hanya ada satu cara untuk menghilangkan racun sungai hitam, Gigitan Hobgoblin.
Dua hari dua malam, Kevin dan Ronald menyusuri hutan, pohon-pohon buah liar yang menjadi makanan keseharian mereka selama perjalanan.
“Kakak, apa kau dengar suara??”
“Suara apa?”
“Dengar itu baik-baik, suara bising itu… dari arah sana!” ugkap Kevin seraya menggait tangan Ronald berlari mendekati asal suara.
Jalan beraspal nampak didepan mata mereka.
 “Benda apa itu.!? Kenapa begitu banyak benda berjalan seperti itu? Apa itu sejenis hewan? Makhluk berkaca dan berbaja yang sangat aneh.! Mereka sedang mencoba memakan manusia ya,.!? Tapi kenapa cara memakannya transparan?” Kevin bertanya dengan mimik polos pada Ronald, sementara Ronald yang ditanya masih asyik mengintip dibalik celah semak.
Ronald berbalik memandang Kevin dan menjitaknya, “Bodoh!! Itu mobil..!! Kau tahu apa ini artinya…!?” senyum lebar dengan mata senang membara diwajahnya.
“Apa..? Kita bisa memakannya, bersama manusia itu?” Tanya Kevin lagi.
Senyum Ronald menghilang sebentar karna kepolosan Kevin, “Astaga… kenapa dikepalamu hanya ada makanan?” menjitak kepala Kevin lagi.
“Auw… sakit… akukan tidak tahu,makanya tanya.! Lagipula kita hanya makan buah-buah liar itu, rasanya tidak enak tahu.!! Kalau ada makanan lain, pasti aku akan memilih makanan itu.!”
“Hahh… (mendengus kesal) dengar… kita.. sudah  hampir sampai kota.!”
“Benarkah? YYaaahuuuuu……”  Kevin loncat-loncat, berteriak kegirangan.
“Sekarang.. fikirkan, bagaimana kita bisa menghentikan mobil-mobil itu untuk sampai ke pusat Kota.!”
“Itu gampang..! Serahkan padaku.”
Kevin berlari menuju tengan jalan beraspal itu, dari jauh terlihat truk melaju kencang, “Hai…. Berhenti!!!”
“Ciiiiiiittttt” truk berhenti mendadak dengan suara dentuman rem keras.
“Apa kau mau mati huh?” supir Truk mulai mengomel pada Kevin.
“Hai… apa kami bisa menumpang ke kota,.!?” Teriak Kevin bersemangat, disusul Ronald dari arah samping menghampiri.
Supir truk mengamati Kevin dan Ronald dari atas sampai bawah, bingung akan penanpilan dua mkhluk didepannya. “Astaga… apa mereka berdua ini gila?” berkata dalam hati.
“Baiklah, tapi aku hanya bisa mengantar sampai perbatasan saja.!”

            Dunia yang bising dan gemerlap cahaya dimalam hari sangat asing, bagi makhluk kurus, berperawakan aneh dengan jubah berjas hitam kebesaran melilit tubuh. Terkecuali untuk Ronald, vamire kibum sangat agresift didunia Dracula. Ronald sering mengunjungi kota-kota besar didunia guna memperoleh santapan segar, lezat, dari darah perempuan lajang tak ternoda.
“Dunia ini jauh lebih menakjubkan dari yang aku bayangkan. Tapi tunggu, kenapa manusia-manusia tolol itu melihat kita? Apa kita begitu mencolok?” Seringai Kevin dari tatapan-tatapan mata orang-orang lalulalang di tengah kota.
Ronald mentap sekelilig dengan tatapan menyergah, “Huh…” dengus Ronald menatap bajunya. “Tak usah kau perdulikan mereka, aku yakin di kota New York ini masih tersisa beberapa vampire generasi “Yi”. Ikut aku, membuntuti dia!” Jawab kibum seraya matanya tetap mengawasi laki-laki berbadan tegap yang berbelok ditaman “Central Park”. Ratusan ruang dan tempat relaksasi dan pengalaman budaya dilewati begitu saja oleh laki-laki itu, hingga sampai pada suatu tempat gelap bermandikan temaram cahaya lampu ujung air pancuran. Berdiri wanita berbalut gaun merah elegan menunggu di kursi taman. Entah apa yang dibicarakan,tapi pelan-pelan laki laki itu menikam perempuan tepat pada lehernya. Taring kuat keluar dari mulutnya, menggigit pelan leher mulus perempuan itu.
“Hah.!” pekik Kevin tertahan dari balik pohon.
“Sshhhh…” desah Vampir yang masih menjilati darah dibibirnya, menengok kearah pohon besar tempat Kevin dan Kibum berada. Mendekat melayang mengitari taman sambil mengendus.
Kibum yang tau situasi, keluar dari persebunyian, “Hallo Jack, Kurasa kau tak melupakanku?” sapa Ronald.
“Siapa kau, manusia tak kenal takut?” Jawabnya melayang turun menginjak tanah.
“Wow.. penciumanmu masih kuat kurasa. 100 tahun lalu kita pernah menciptakan ramuan keabadian di pondok sebrang desa kota New York. Apa kau masih ingat?”
Laki-laki itu mendekat mengamati Kibum dan Kevin, “Ronald.!?”
“Yah.”
“Kau….”
“Aku terjebak menjadi manusia setelah meminum ramuan anti matahari. Yeah, kau tau sendiri, aku selalu meneliti ramuan-ramuan yang bisa membuat kaum kita Berjaya.”
“Baiklah… apa yang bisa kubantu untukmu, sahabat lamaku.” Matanya mulai menyipit menatap Kevin.
“Oh… dia adikku. Bisakah kau menampungku dirumah mu?”
“Tidak, aku tidak bisa. Kakak-kakakku pasti akan tergiur menghisap darahmu. Tapi aku punya solusi tepat untuk menolong kalian. Tunggu disini.” Ungkapnya sembari melayang pergi.



CHAPTER 2Kampus STOFF tampak ramai nan sibuk, karena persiapan kedatangan Bapak Mentri Pendidikan Amerika Serikat.
“Yuri….!!! Tolong ambilkan aku peralatan dekorasi di gudang.” kata salah satu senior berbaju biru nan elegan.
“Iya.. Senior!!”
“Hai.. aku juga butuh beberpa pita merah yuri…” Teriak senior Park.
“Yuri.. bawakan aku setumpuk kain warna biru.”
“Yuri.. lihat itu, bunganya layu.. cepat siram.!”
“Yuri.. cepat, alat dekorasinya..!!”  Beberapa senior mulai ikut-ikutan menyuruh Yuri.
“Iya senior!! Tanganku cuma satu, tolong bersabar sedikit, masih banyak yang harus aku kerjakan.” Jelas Yuri, pada senior-seniornya memasang wajah tersenyum dipaksakan.
            Dengan langkah gontai dan lelah, Yuri melangkah menuju belakang kampus, tepat dibalik semak belukar terlihat bangunan tua tempat penyimpanan barang-barang (gudang).
            Dengan langkah gontai dan lelah, Yuri melangkah menuju belakang kampus, tepat dibalik semak belukar terlihat bangunan tua tempat penyimpanan barang-barang (gudang). Kaki Yuri mulai menapaki ruang gudang yang gelap dan menyeramkan. Terdengar suara didalam gudang pojok kanan, dekat rak pita, jantung Yuri berdegup kencang, bulu kudu berdiri dan....
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAArrrrrrrrrrGGGGGGGGHH" 
Teriakkan  membahana diruangan itu, nampak 2 wajah laki-laki menyeramkan, pucat, kusut dan bau beringsut di samping kardus-kardus dekat meja pita.
“Hah....kalian mengagetiku, senior…!"
"Senior..???" tanya Kevin.
"Ya, oh.. sedang apa kau kesini?" sambung Ronald berlagak sok kenal.
"Aku? A... aku mengambil peralatan dekorasi." kata Yuri sembari mengedarkan mata kesekeliling mencari kardus peralatan dekorasi ditengah tumpukan kardus kardus yang berserakan.

Kamis, 08 Maret 2012

naskah drama petualangan keluarga LOL

Saat liburan semester, si empat besaudara akan pergi liburan ke puncak dan menginap di villa milik ayah Fendol. Seminggu sebelumnya mereka sudah berkemas-kemas. Mereka pergi ke villa yang terletak di Puncak Owl Hill dengan menggunakan mobil ayah Fendol.
Fendol  : Gimana? Udah siap belom? Came on guys! (sambil memasukan barang-barang ke mobil dan diikuti teman-temannya)
Tiwol     :   Tapi, semua gak ada yang ketingglan kan?
Semua  :   Beres bos!!! (mengacungkan jempol)
Rizal       :   Ngomong-ngomong Owl Hill itu dimana sih?
Ditol       : Ya, ampun masa kamu gak tahu sih, (sambil berkacang pinggang) itu lho yang didaerahComwall. Masih jauh sih dari sini kira-kira 25 mil dari tempatnya Fendol.
Rizal       :   Ya, maaf, aku kan blom pernah ke situ.
Fendol  :   Udah-udah jangan ribut terus! Mendingan liat pemandangan aja, kaya yang dipojok itu lho. (sambil nunjuk)
Tiwol     :   Apa sih Fend, nunjuk-nunjuk! Emangnya aku apaan.
Semua  :   Ya orang lah, masa ya orang donk (ketawa)
Tiwol     :   Uh, kalian gak asik deh!
Setelah insiden tersebut mereka mengikuti saran Fendol dan akhirnya mereka tertidur. Setelah beberapa jam, akhirnya sampailah di Villa Owl Hill milik ayah Fendol. Tiba-tiba mereka terbangun karena mendengar cuter yang nayring.
Tiwol     :   (terlonjak) Wah dimana ini, apakah kita sudah sampai?
Fendol  :   Iya kita sudah sampai di villaku, ayo turun! (turun dan diikuti teman-temannya) Ayo Zal, jangan malas. Kita bantu untuk menurunkan barang-barang.
Rizal       :   Ya, deh!
Saat anak-anak sedang membereskan barang-barang. Disekitar villa tersebut, sedang ada dua orang yang sedang merencanakan sesuatu.
Sandal   :   Gimana nih, jadikan kita lakukan rencana yang kemarin itu!
Panjol   :   Ya jadi lah! Masa rencana yang udah kita buat susah payah, gak dijalanin sih!
Sandal   :   Iya, iya bawel!
Panjol   :   Apa kamu bilang, bawel? Awas ya, kamu bila begitu lagi! (melotot dan berkacak pinggang)
Sandal   :   Jadi, siapa nih yang mesti kita culik? (mengangkat bahu)
Panjul   :   Anak pemilik villa!
Setelah mengangkat barang-barang dari mobil, Fendol menunjukkan kamar yang mereka pakai malam ini.
Fendol  :   Ayo kita masuk! (mengajak teman-temannya)
Tiwol dan Ditol : Kamar kita mana nih? (bersama setelah itu nyengir)
Fendol  :   Diatas! (menunjuk ke atas) Mari kutunjukan.
Rizal       :   Ok, deh!
Keesokan harinya, setelah sarapan.
Tiwol     :   Hari ini kita kemana ya, enaknya?
Ditol       :   Yang jelas jalan-jalan keliling villa!
 
 
part 2
 
 
Rizal       :   Jangan kita sepedaan aja!
Fendol  :   Jangan ribut! Kiat keliling villa dulu baru sepedaan, adilkan!
Setelah anak-anak sarapan, mereka segera mengganti baju mereka dengan baju hangat dan segera berjalan-jalan.
Fendol  :   Wah, seneng ya. Setelah capek mikir di sekolah, akhirnya kita liburan juga!
Tiwol     :   Iya, ya aku juga seneng. Iya kan, Dit?
Ditol       :   Pastinya!
Rizal       :   Aku juga!
Tetapi, semua itu tidak selalu menyenangkan. Si empat bersaudara sebentar lagi pastikan mengalami petualangan yang sangat menegangkan.
Panjol   :   Gimana udah?
Sandal   :   Ya, udah donk!!!
Panjol   :   Oke kita buntutui mereka! Tapi jangan sampai ketahuan dan jangan terlalu dekat!
Sandal   :   Ok bos!
Saat empat bersaudara sedang jalan-jalan di kebun teh. Tiba-tiba Fendol ingin pipis.
Fendol  :   Aduh! Payah aku kepingin pipis nih, Zal?
Rizal       :   Aduh be parah! Ya udah kita cari sungai.
Fendol  :   Oke deh, tapi aku tunggu ya!
Rizal       :   Lh, masa aku suruh nungggu kamu!
Fendol  :   Yang penting kamu gak liat aku!
Rizal       :   Ya, deh!
Saat Fendol kecing, inilah saatnya bagi Panjol dan Sandal menangkap Fendol.
Panjol   :   Saat yang bagus, Ndal!
Sandal   :   Ya, kita sergap dia dan kita bawa lari.
Panjol   :   Tapi, kamu ya! Aku kan cewek, jadi malu donk liat cowok pipis.
Sandal   :   Malu apa mau,ha? (menggoda)
Panjol   :   Udah deh! Lakukan tugasmu dan langsung ke sini, dan inget jangan sampe ketahuan.
Sandal   :   Ok!
Saat Fendol sedang asyiknya pipis, dia kaget setengah mati. Saat itu dia disergap oleh seorang penculik, dan Fendol ingin berontak tapi tidak bisa. Karena dia dibekap oleh penculik tersebut. Tetapi Rizal juga tidak menyadari bahwa Fendol hilang dari sungai itu.
Rizal       :   Dah belom to, Fend. Dah ngoyot nih nunggu kamu lama banget (saat ditunggu kok gak ada jawaban, Rizal balik badan, kaget) Fendol kok gak ada? Waduh mana sih dia, Ndol, Fendol!
Selagi Rizal mencari Fendol dua penculik itu sudah mendekap Fendol. Dan Fendol sudah tidak bisa berkutik lagi.
Panjol   :   Diam kau, atau kalau kamu tidak bisa diam. Kusumpal nanti mulutmu.
Fendol  :   Lepaskan, kamu siapa? Ha!
Sandal   :   Diam, kamu anak ingusan!
Fendol  :   Aku bukan anak ingusan tau!
Panjol   :   Sudah! Heh kamu, Dimana sertifikat villa itu disimpan? Hah!
Fendol  :   Mau ka apakan itu?
Sandal   :   Ya, dijual lah!
Panjol   :   Sudah kamu diem aja disitu! (menunjuk pojok)
Rizal mencari teman-temannya untuk memberitahukan kalu Fendol menghilang.
Rizal       :   Hei, teman-teman. (ngos-ngosan)
Ditol       :   Heh, lama banget sih kamu! Dimana aja sih?
Tiwol     :   Iya nih Rizal. Lho Fendol mana?
Rizal       :   Iya itu, aku mau bilang kalau Fendol menghilang!
Tiwol dan Ditol : Apa menghilang! (kaget)

Tiwol     :   Kamu bercanda kan, Zal?
Ditol       :   Iya, nih. Rizal ada-ada aja.
Rizal       :   Ya ampun betulan! Tadi pas aku nagnter Fendol ke sungai, ia kebelet pipis dan pengen pipis. Terus waktu aku liat kebelakang, Fendol dah gak ada! Terus aku kesini deh.
Tiwol     :   Terus, gak kamu cari dimana Fendol?
Rizal       :   Ya gak lah, aku kan panik. Terus aku kesini.
Ditol       :   Dasar tolol! Kenapa gak kamu cari dulu, baru kemari!
Selagi teman-teman Fendol ribut, Fendol sudah disekap disuatu rumah. Rumah itu berada tidak jauh dari Villa Owl Hill.
Panjol   :   Nah, kamu disini aja ya anak ingusan!
Sandal   :   Jangan coba-coba kabur ya! Awas kamu!
Fendol  :   (diem aja, sambil melotot)
Sandal   :   He, apa kamu liat-liat!
Panjol   :   Sudah, jangan ribut terus!
Di satu sisi Rizal, Ditol, dan Tiwol mencari Fendol.
Rizal       :   Ayo, kita cari petunjuk tentang keberadaan Fendol.
Ditol       :   Lebih baik kita berpencar, tapi jangan jauh-jauh! Nanti ketemu disini lagi ya.
Tiwol     :   Eapz! Ku cari sebelah sini, Ditol kamu cari sebelah sana, dan Rizal kamu sebelah situ!
Ditol dan Rizal : Sipp, bos!!!
Tiwol bersama anjingnya berjalan menyusuri jalan dengan seksama! Tiba-tiba!
Tiwol     :   Binggo, ada apa? Kamu nemuin apa?
Binggo mengendus sesuatu di semak-semak. Dan Tiwol segera mendekat i benda tersebut.
Tiwol     :   (mengambil satu buah sepatu) inikan sepatunya, Fendol. Yupa, tidak salah lagi. Pasti melewati jalan ini.
Tiwol dan Binggo melanjutkan perjalanan menyelusuri jalan, hingga sampailah ke sebuah rumah tua. Tiwol dan Binggo segera menghampiri rumah itu sambil menyelinap.
Tiwol     :   Binggo, aku akan menyelamatkan Fendol. Tolong kamu beritau ke Ditol sama Rizal. Cepat lari!
Binggo segera meninggalkan Tiwol. Tapi sayangnya saat Tiwol membalikkan badan dihadapannya sudah nampak satu orang.
Panjol   :   Mau ngapain kamu disini? Siapa kamu?
Tiwol     :   Aku temennya Fendol.
Panjol   :   Jadi kamu kesini mau nyelametin Fendol ya? Tidak akan kubiarkan! Sandal cepat bawa anak ini kedalam!
Fendol  :   Tiw, kok kamu bisa ada disini?
Tiwol     :   Ceritanya panjang! Ayo cepet, kita harus nglepasin tali ini.
Sementara itu, saat Ditol sedang berjalan. Dia terpeleset ke jurang yang tidak terlalu tinggi, untung saja dia masih bisa berpegangan dengan akar-akar. Saat itu juga, Binggo melihat kejadian itu.
Ditol       :   Tolong!!! Help me, please! Siapa aja tolonglah diriku ini! Tolong!!!
Binggo hanya bisa menggonggong berharap ada sesorang yang mendengar. Tiba-tiba Rizal mendengar teriakan seseorang minta tolong dan gonggongan anjing yang tak jauh dari situ.
Rizal       :   Bukannya itu suaranyaDitol, dangonggongan itu si Binggo. Jangan-jangan mereka dalam bahaya. Aku harus segera kesana. Trikitikkitik... (mengI kuti gaya Ceking) Akhirnya Rizal menemukan Binggo.
Akhirnya Rizal menemukan Binggo.
Rizal       :   Binggo, ada apa? Mana Tiwol sama Ditol?
 
bersambunggggggggg

naskah drama Persahabatan

Bintang yang setia pada malam, begitu pula kesetiaan embun menemani pagi. Matahari yang tak pernah lelah terangi dunia ini. Seperti itulah persahabatan, selalu setia tanpa diminta. Saling mengerti tanpa harus memohon. Tak ada satupun orang di dunia ini yang hidup tanpa persahabatan, persahabatan adalah kisah terindah yang tak terlupakan bagi setiap insan yang pernah merasakannya.
Luna, Satrya, Olive, Bondan dan Meta sedang duduk bergerombol bersama. Mereka mengobrol, bernyanyi sambil sesekali tertawa lantang, saling menjahili satu sama lain. Sungguh seperti sebuah keluarga yang harmonis.
Karena merasa iri hati, Lexa dan Tita yang tak mempunyai banyak teman datang untuk mengacaukan suasana.
Lexa : “Idih…!! suara pas-pasan aja sok mau nyanyi! Diem aja deh mendingan,” (dengan wajah menghina)
Bondan : “Eh.. suka-suka dong! Kayak suara kamu aja yang paling enak, KD kalah cempreng tuu!”
Semua anak di tempat itu tertawa keras, kecuali Lexa dan Tita yang rautnya berubah menjadi tak karuan. Bondan dan kawan-kawannya pun melanjutkan obrolan mereka lagi tanpa menghiraukan Lexa dan Tita.
Lexa dan Tita : (pergi meninggalkn tempat dengan wajah berlipat)
Bondan : “Hmm.. sorry fren, aku balik duluan ya? Ada janji buat latihan, maklum mau ada konser amal kecil-kecilan gitu..”
Meta : “Duh, sibuknya! Ya udah buruan berangkat, ati-ati!” (sambil melambai-lambaikan tangan)
Olive : “Waduh.. panggilan alam nih, aku ke toilet dulu yah..? (buru-buru meninggalkan anak-anak yang lain)
Luna : “Hmm, dateng lagi deh ‘langganannya’! Dasar gak berubah.. haha..”(menggeleng-gelengkan kepala)
Meta : “Hahaha, biasa lah, Na. Kalo nggak gitu, bukan Olive namanya,”
Luna : “Eh, haus nih.. minum es enak kali ya??”
Satrya : “Iya juga ya. Oke kalo gitu aku beli es dulu ya, tunggu di sini aja sama Meta,” (berlalu pergi meninggalkan Luna dan Meta)
Meta : “Na.. sebenernya beberapa bulan ini ada yang beda dari aku, aku udah nggak bisa nyembunyiin ini semua. Dan menurutku cuma kamu yang bisa jaga rahasia ini.”
Luna : “Rahasia? Cerita aja, Ta.. kita kan temenan udah lama. Lagian aku udah siap kok buat jadi pendengar yang baik,” (berusaha meyakinkan Meta)
Lanjutan II Contoh Naskah Drama Remaja:
Tanpa mereka sadari, Satrya berdiri di kejauhan dengan beberapa bungkus es di tangannya. Satrya melihat Luna dan Meta sedang asyik bercerita, dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. Ia melamun. Dan saat tersadar dari lamunannya, ia menuju Meta dan Luna, dan tersentak ia terkejut mendengar ucapan Meta.
Meta : “Aku.. su—ka Bondan!!” (dengan terbata-bata)
Satrya : “Hah..?! Meta suka Bondan??” (berkata lirih)
Kebetulan Olive juga sudah datang.
Olive : “Hah?!” (datang tiba-tiba dan mendengar ucapan Meta yang membuatnya kesal)
Di saat itu pula pertengkaran terjadi.
Luna : “Eh, kalian udah pada balik!” (sambil tersenyum dengan sapaan halus)
Olive : “Ta.. serius kamu suka Bondan??”
Meta : “Hmm.. ngomong apa sih, kamu..? (pura-pura tidak tahu)
Olive : “Halah..!! gak usah bo’ong deh.. aku denger kok!” (dengan nada agak tinggi)
Luna : “Kamu salah denger, kali?” (berusaha menengahi)
Olive : “Ta, kayaknya kamu juga harus tahu! Aku suka ama Bondan udah lama banget, kamu nggak boleh gitu dong!! Kayak nggak ada yang lain aja?!” (marah-marah)
Satrya : “Heh udah diem semua!!” (berusaha menandingi nada tinggi Olive dan Meta)
Meta : “Oh gitu ya?! Berarti kamu tuh yang ngerebut gebetan temen sendiri, kamu aja yang naksir ama cowok laen, ngapain pake nyuruh aku??” (balik marah)
Keadaan semakin parah karena tidak ada yang mau mengalah.
Luna : “Udah, udah… jangan bertengkar cuma gara-gara masalah cowok!” (berusaha melerai)
Satrya : “Kita udah temenan lama, jangan sampai semua rusak cuma karena masalah sepele kayak gini!” (berkata paling bijak)
Olive : (meninggalkan teman-temannya dan pergi menyendiri)
Script 1 Naskah Drama Remaja
Sialnya, dua orang yang sangat membenci Bondan cs mengetahui perkara ini. Alexa memanfaatkan keadaan ini untuk menghancurkan persahabatan mereka berlima. Dengan satu-satunya teman setia yaitu Tita, mereka mempengaruhi Olive supaya memusuhi dan membenci semua sahabatnya itu.
Olive : (duduk termenung, sendiri, dan terdiam)
Alexa : “Ehm.. kok cemberut sih??” (berusaha menarik simpati Olive)
Tita : “Ada masalah ya, Liv?”
Olive : “Katanya sahabat, masak harus naksir cowok yang sama?! Bete banget, kan??” (berkata dengan nada ketus)
Lexa : “Sabar aja deh. Mending sementara nggak usah temenan deh sama mereka. Nanti kan jadi saingan yang nggak sehat!” (merayu)
Tita : “Iya, bener tuh,” (meyakinkan Olive)
Olive : “Gitu, ya..?”
Lexa : “Gini aja, mending mulai sekarang kamu gabung ama kita berdua. Nanti kita akan bantu kamu ngalahin si Meta gingsul itu!”
Tita : “Iya, bener, Liv. Kita bela kamu kok”
Olive : “Emang boleh..??”
Tita dan Lexa : “Ya boleh, lah!!”
Olive hanya tersenyum, entah benar atau tidak keputusannya ini, dia tidak begitu peduli saat itu.
Script 2 Naskah Drama Remaja
Di sisi lain, keadaan rumah tangga orang tua Luna sedang dilanda pertengkaran hebat. Papanya yang selalu marah-marah bersikap keras dan memukul Mama Luna. Sementara itu Aldo, adik Luna hanya bisa diam tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Papa Pratama : “Kamu ini bisanya bikin susah suami aja!!” (membentak-bentak Mama Mey)
Mama Mey : “Aku salah apa, Pa..??”
Papa Pratama : “Kerjaan kamu seharian cuma shopping, arisan, ngumpul sama temen-temen. Nggak pernah ada di rumah. Liat ni anak kamu jadi nggak keurus!”
Mama Mey : “Tapi Papa juga sibuk sendiri sama klien-klien di kantor. Nggak peduli sama istri dan anak-anak!!” (menangis dan memeluk Aldo)
Papa Pratama : (Plaak..!! tmparan keras singgah di wajah Mama Mey)
Aldo : “Ma, Papa kok mukul-mukul Mama..?” (dengan penuh kepolosan)
Mama Mey : (menangis)
Di saat itu pula Luna datang dan terkejut melihat semua yang terjadi.
Luna : “Mama…?!” (datang memeluk Mama Mey)
Script 3 Naskah Drama Remaja
Keesokan harinya..
Satrya menceritakan semua yang terjadi kemarin antara Meta dan Olive. Sekejap terkejutlah Bondan mendengar semua itu.
Satrya : “Menurutku kamu hrus cepet bikin keputusan. Kasih kepastian buat mereka berdua. Aku nggak mau mereka bertengkar terlalu lama.”
Bondan : “Oke, oke..! aku bakal berusaha jelasin semuanya biar mereka nggak bertengkar sia-sia,”
Bondan pun berusaha menemui Meta dan Olive hari itu juga. Namun sayang, hanya Meta yang mau menerima keputusan Bondan, sedangkan Olive lebih memilih menghindarinya.
Bondan : “Ta, Satrya udah nyeritain semua ke aku tentang yang kemarin. Bener kamu suka aku..?” (berusaha memastikan)
Meta : “Satrya nggak bohong kok soal yang kemarin itu!”
Bondan : “Gini, Ta. Sebelumnya aku minta maaf. Soalnya gara-gara aku kamu jadi tengkar ama Olive. Bukannya apa-apa, tapi buat waktu dekat ini aku lagi nggak pengen mikirin cewek. Aku masih mau serius di dunia musikku,” (menerangkan dengan bijaksana)
Meta : “Oke. Aku ngerti kok. Cuma kayaknya sekarang Olive udah terlanjur terpengaruh sama Alexa. Kayaknya bakal sulit buat ngembaliin dia kayak dulu lagi,” (sambil mendesah putus asa)
Olive, Lexa, dan Tita : (berjalan melewati Bondan dan Meta, namun bersikap tak acuh dan sama sekali tak peduli)
Bondan : “Olive?”
Olive : (berjalan terus tanpa henti)
Script 4 Naskah Drama Remaja
Mendekati Aldo adalah salah satu cara yang dipakai Satrya untuk menarik perhatian Luna. Hari ini pun Satrya akan mengunjungi rumah Luna. Dan di perjalanannya menuju rumah Luna, ia melihat Aldo tergeletak tak sadarkan diri di pinggir jalan. Sepertinya ia menjadi korban tabrak lari. Cepat-cepat Satrya membawa Aldo ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit…
Satrya : “Halo, Luna? Adek kamu di RS. Dia habis ketabrak kendaraan, cepetan kamu ke Rumah Sakit—mm, Cempaka Husada,” (langsung berbicara begitu suara di seberang telepon menjawab)
Luna : “Hah, sekarang keadaannya gimana?!” (panik)
Satrya : “Udah tenang aja, yang penting kamu sekarang cepetan ke sini! Jangan lupa bilangin Mama dan Papamu!”
Dan tak lama kemudian Luna datang terengah-engah, sambil berlari tergesa-gesa.
Luna : “Ya ampun…. Aldo!!” (begitu melihat Aldo)
Satrya : “Dokter udah periksa dia, katanya luka di kepalanya itu nggak terlalu parah, kok,” (berusaha menenangkn Luna)
Luna : “Syukur deh kalo gitu..” (mendesah lega)
Satrya : “Hmm.. aku ke toilet dulu ya. Kamu di sini aja jagain Aldo sambil nunggu ortumu dateng,”
Luna : “Iya, tapi jangan lama-lama. Aku takut sendirian di sini,”
Satrya : “Oke,”
Saat Satrya berada di toilet, dia ingat akan teman-temannya yang pasti juga harus diberitahu tentang ini. Tanpa menunggu lagi, Satrya segera menelepon Meta dan Bondan.
Setelah selesai memberitahu mereka, Satrya keluar dari toilet dan hendak berjalan kembali ke ruang rawat. Saat ia berjalan, tiba-tiba bahunya tertabrak dengan bahu seseorang. Betapa kagetnya Satrya saat melihat ternyata bahu yang ia tabrak adalah bahu Olive.
Olive : “Aduuh…!” (sambil memegangi bahunya)
Satrya : “Oh, maaf, maaf.. Nggak sengaja, lagi buru-buru,”
Olive : “Iya, iya. Nggak apa-apa kok,”
Satrya : “.. lho? Olive?? Ngapain kamu di sini..?”
Olive : “Eh, Satrya.. Iya, aku habis nganterin Mama check up, tapi aku ada perlu, jadi Mamaku pulang duluan. Terus.. kamu sendiri nagapain di sini?”
Satrya : “Ini, Aldo adiknya Luna ketabrak, sekarang lagi dirawat di kamar 555. Ini aku lagi nungguin Bondan ama Meta dateng,”
Olive : “Oh…”
Satrya : “Kamu masih marah sama Meta? Sama kita juga?”
Olive : “Ngg… nggak sih. Agak sebel aja. Emang kenapa?”
Satrya : “Liv, aku cuma mau beritau, Alexa itu bukan orang yang baik. Dia manfaatin keadaan kita yang lagi retak ini dengan menghasut kamu. Inget Liv, kita udah lama sahabatan. Kita semua tau siapa aja yang layak diajak temenan. Dan Alexa nggak termasuk dalam kategori itu. Dia itu cuma mau ngehancurin kita aja..”
Olive : “Tapi si Meta itu lho..” (memasang wajah kecut)
Satrya : “Bondan udah jelasin ke Meta dan Meta ngerti, kok. Masa kamu nggak bisa ngerti??”
Olive : “Mmmh.. gimana ya?? Iya sih, aku liat Alexa itu nggak baik. Mm..”
Satrya : (menunggu Olive sambil menatap matanya tajam)
Olive :”.. mungkin aku pikir aku minta maaf aja ya ama Meta…?”
Satrya : “Naah, gitu dong! Ya udah, kamu ikut aku aja ke kamarnya Aldo. Nanti kita tunggu Meta ama Bondan dateng,”
Olive : “Ya udah deh, yuk. Eh.. tapi aku ke toilet dulu ya. Kamu jalan aja duluan, ntar aku nyusul kok,”
Satrya : “Oke, cepetan ya!” (langsung pergi)
Sementara itu…
Mama Mey : “Aldo!! Anakku sayang,”
Papa Pratama : “Liat ini! Ngurus anak aja nggak becus!!” (menyalahkan Mama Mey atas apa yang terjadi)
Mama Mey : “Ini juga salah Papa! Selalu sibuk sampai nggak punya waktu buat nemenin Aldo main!” (balik menyalahkan)
Luna : “Udah berhenti..!! Mama sama Papa kelakuannya sama aja! Aldo lagi sakit masih aja bertengkar, Luna capek, Ma, Pa, dengerinnya!! Masalah itu gak bakal selesai kalau nggak diselesaiin baik-baik.. Yang ada kejadian malah tambah berantakan, coba deh Papa sama Mama ngertiin aku sama Aldo. Kita nggk pengen Papa-Mama tengkar terus! Luna mohon dong Pa, Ma!!” (sedikit menangis)
Aldo : “Mama.. Papa.. Kak Luna..” (tersadar dari pingsannya)
Papa Pratama : “Mama.. Aldo.. Luna.. Papa minta maaf ya? Papa janji bakal nyediain waktu buat ngumpul bareng-bareng kalian semua. Papa sadar selama ini Papa terlalu sibuk di kantor,” (berbicara setelah termenung sejenak)
Aldo : “Iya.. kita semua maafin Papa! Tapi Papa janji ya gak boleh mukul Mama lagi..?”
Papa Pratama : “Iya,” (memeluk istri dan anak-anaknya)
Script 5 Naskah Drama Remaja
Kemudian, Satrya telah kembali dari toilet, bersamaan dengan Meta dan Bondan yang baru datang. Tak lama kemudian, Olive mengetuk pintu..
Olive : “Ehm.. aku boleh masuk, kan?” (sedikit ragu)
Aldo : “Eh, Kak Olive. Nggak papa masuk aja, Kak!”
Olive : “Sebenernya.. selain mau jenguk Aldo, aku dateng juga untuk minta maaf atas semua kesalahanku sama kalian selama ini. Satrya udah jelasin semua ke aku. Kalian mau, kan, maafin aku..?”
Meta : Aku juga minta maaf, soalnya udah ngomong kasar ke kamu. Maafin aku juga, ya?”
Bondan : “Nah, kalau gini kan lebih enak, ya kan, Fren??”
Satrya : “Aku juga seneng kalo kita semua akur lagi kayak dulu,” (sambil tersenyum)
Luna : “Makanya, laen kali kalo mau naksir cowok nggak usah pake acara kompakan..!”
Semua : (tertawa bersama-sama)
Tita : “Eh, sorry kalo ganggu. Sebelumnya aku mau minta maaf sama kalian. Selama ini aku salah pilih temen. Aku sadar Lexa cuma manfaatin aku aja. Kalian mau, kan, nerima aku jadi teman kalian??” (tiba-tiba muncul!)
Semua : “Ya boleh, lah!!”
Sesaat kemudian, handphone Tita berdering nyaring, mengejutkan semua orang… Terkejutlah semua orang dalam ruangan itu saat mendengar berita bahwa Alexa mengalami kecelakaan!
Meta : “Lho kok..?!”
Bondan : “Terus keadaannya gimana sekarang..?”
Olive : “Di Rumah Sakit mana?”
Luna : “Parah apa nggak?”
Aldo : “Alexa itu siapa…?”
Tita : (hanya diam mendengarkan semua pertanyaan itu)
Satrya : “Gini aja. Sekarang biar Tita ceritain semua yang dia tahu tentang keadaan Alexa sekarang,”
Aldo : “Iya, ayo cerita. Aldo juga pengen tahu!”
Tita hanya diam. Dia masih shock dengan banjir pertanyaan barusan.
Olive : “Titaaa ??”
Tita : “Hmm.. jadi gini, sekitar satu jam yang lalu Lexa ceritanya mau ke sini. Dan tadi berita dari rumah sakit bilang kalo Lexa ditemuin jatuh di perempatan deket sini. Katanya keadaannya cukup kritis sih,”
Meta : “Rumah Sakit mana?”
Tita : “Emm, Cempaka apaa gitu, lupa aku—”
Bondan : “Cempaka Husada, Ta?”
Tita : “Nah itu! Bener!”
Bondan : “Ya ampun Taaa, itu kan Rumah Sakit ini! Ayo ayo kita tanya ruangan mana!” (semua orang menepuk jidat)
Olive : “Ya udah, sekarang kita bareng-bareng buruan cari. Om, tante, kita semua permisi dulu yah!!”
Dan tak lama kemudian mereka semua tiba di ruangan tempat Alexa dirawat.
Tita : “Lexa… kamu nggak apa-apa kan?” (paling antusias)
Alexa : “Aku udah agak mendingan kok.. makasih ya kalian semua udah mau jenguk aku..”
Meta : “Ya.. walaupun kita masih agak kesel ama kamu,” (sedikit ketus)
Bondan : “Udahlah.. yang kemaren nggak usah diungkit-ungkit lagi!”
Alexa : “Hhm, aku minta maaf yah, selama ini aku banyak banget salah ama kalian. Mau kan, maafin aku??”
Meta : “Iya, kita mau kok maafin kamu! Tapi ada syaratnya, lho!”
Alexa : “Apa syaratnya?”
Meta : “Kalo kamu udah sembuh nanti, traktir kita semua makan!!” (sambil tersenyum-senyum)
Luna : “Eitz.. satu lagi, adek aku juga diajak yah?” (merayu)
Semua : (tertawa bersama-sama)
Tak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Mereka semua tak pernah luput dari kesalahan. Oleh karna itu meminta maaflah jika merasa bersalah. Dan maafkanlah bila ada yang bersalah. Semua akan indah jika kita saling memaafkan satu sama lain.